Cethe Merchandise di Harian Surat Kabar Surya

Menulis memang membutuhkan waktu,tenaga dan pikiran.  Karena kalau tidak berniat meluangkan semua itu, jadinya seperti blog saya ini.  Jarang terupdate.  He he he..  Kira2 ada kalau 5 bulan saya tidak menulis lagi.  Disamping karena kesibukan di kedai kopi, saya juga berusaha memperluas bidang usaha saya untuk memproduksi kopi sendiri yang sudah saya rintis beberapa bulan yang lalu. Suatu waktu, ada seseorang yang meminta saya untuk wawancara.  Katanya, untuk menjadi salah satu sumber untuk salah satu surat kabar harian di Jawa Timur, Surya.  Setelah janjian, dan sempat beberapa hari molor karena memang ada beberapa hal yang harus segera dikerjakan, kamipun bertemu juga.  Bertanya tentang semua kegiatan usaha bidang cethe merchandise ini bersama sesorang fotografer sepertinya.  Sayapun bercerita tentang usaha ini.  Dari mulai nol hingga sekarang ini.  Tidak lama, sekitar 2 jam.  Sambil menikmati secangkir kopi yang di buatkan ibu saya yang kebetulan maen ke sidoarjo.  Setelah selesai menjawab pertanyaan dan mengambil beberapa gambar, merekapun minta ijin untuk pamit. Setelah beberapa hari, saya mendapat sms kalau beritanya sudah di muat di harian surat kabar surya hari itu juga.  Setelah browsing internet, ternyata beritanya juga di muat di websitenya di sini dan disini. Saya copy pastekan dari sana beritanya, kira-kira seperti ini…

Dari Rokok Beralih Nyethe Gelas dan Lampu Hias

Sasang Priyo Sanyoto, Perajin Souvenir Limbah Kopi DIDIK SUTRISNO Surabaya

Kata ‘nyethe’ sering terdengar di telinga masyarakat Jawa. Ya, nyethe merupakan kegiatan mengoleskan endapan bubuk kopi yang sudah diseduh ke batang rokok dan dibuat seindah mungkin seperti batik. Sebagian meyakini rokok yang sudah diolesi cethe lebih nikmat. Tak heran jika setiap warung yang menyediakan rokok cethe selalu dipenuhi pengunjung.

Namun, yang dilakukan Sasang Priyo Sanyoto bisa jadi keluar dari ‘pakem’. Pasalnya, media yang digunakan tidak lagi sebatang rokok tapi barang yang lebih bernilai jual, seperti gelas, cangkir, art paper, asbak, meja hingga wallpaper. Hasilnya, kerajinan dengan kreativitas menggunakan limbah kopi mulai diminati pembeli.

Awalnya, dia mengakui, memang sederhana saja bagaimana agar limbah endapan kopi yang biasa disebut cethe tak terbuang sia-sia. “Apalagi saya sering saat ngopi corat-coret di bungkus rokok atau koran. Akhirnya saya berpikir bagaimana aksi corat-coret ini bisa bermanfaat. Mulailah saya mencoba di media daun atau kayu kering maupun kertas yang semuanya dari limbah,” papar Sasang, yang mengaku memulai usaha itu awal 2009.

Dorongan itu kian besar ketika dirinya diserahi mengelola sebuah kafe oleh kakaknya di kawasan Gebang Raya, Sidoarjo. Dengan begitu, ia tak lagi dipusingkan bahan baku karena di tempatnya sendiri cukup berlimpah. Soal motif lukisannya, dia memilih batik khas Jawa Timur berupa motif bunga atau abstrak.

Mengingat cethe mudah dihilangkan atau terhapus, pria asal Tulungagung ini mencampurnya dengan bahan lain agar tahan lama. Untuk membuat ramuan cethe yang siap dioleskan, Sasang harus mengeringkan ampas kopi dulu agar hasilnya optimal. Baru bubuk cethe kering dituang di wadah dan dicampur dengan lem dan air sedikit.

“Setelah itu, baru kita mencoret ke media dengan menggunakan sebuah lidi. Ada banyak pilihan jenis kopi, mulai kopi hitam, kopi coklat hingga hijau. Ini menambah tampilan lukisan kian hidup,” papar pria 25 tahun ini.

Ternyata hasil coba-coba yang dilakukannya tak mengecewakan. Beberapa barang ia sulap menjadi cantik dengan ukiran kreasinya. Untuk mengenalkan kreativitasnya pada publik, Sasang memajang barang-barang yang sudah dilukis di kafe yang hampir setiap malam dipadati pengunjung.

“Barang-barang yang dilukis sebagian besar terkait dengan kafe, seperti gelas, asbak, cangkir, hiasan dinding, lampu hias, hingga meja,” tukasnya, yang masih merogoh kocek sendiri untuk usaha ini.

Mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta di Surabaya ini juga memperkenalkan produk-produknya di blog melalui refreshindonesia.com, dengan menempelkan merek ‘Cethe Merchandise’. Tak butuh waktu lama baginya, karena sejak itu banyak permintaan datang. Sebagian besar untuk souvenir dan contoh produk di butik atau toko oleh-oleh.

“Pesanan mulai membanjir dari beberapa kota di Jawa, termasuk Jakarta. Namun mengingat semua masih saya kerjakan sendiri, saya hanya menyanggupi maksimal 10 piece per hari untuk barang-barang seperti gelas,” ungkap ayah satu orang putri ini, yang belum menjadikan usahanya sebagai pendapatan utama.

Untuk melukis dengan media gelas, cangkir, asbak, kertas, Sasang butuh waktu antara satu hingga dua jam. Sementara, untuk media yang lebih besar seperti, meja atau wallpaper, ia butuh waktu lebih lama. Setelah itu, hasil kreasi lukisan mesti dikeringkan semalam. Sasang tidak mematok harga mahal untuk kreativitasnya itu. Untuk media gelas misalnya, kisaran harganya Rp 10.000-30.000 per piece. Sedang cangkir Rp 50.000-80.000 tergantung jenis bahannya. Sementara, lukisan dari kertas Rp 100.000.

Meski produknya sudah dikenal, toh Sasang belum merasa puas. Ia terus mengembangkan produknya ke media yang lebih menarik, seperti fiberglas dalam bentuk lampu hias atau hiasan dinding. Sementara, untuk mengantisipasi membludaknya pesanan, ia mulai melatih beberapa orang di Tulungagung untuk bisa melukis cethe. “Banyak remaja-remaja di Sidoarjo sini yang mau belajar, namun banyak pula yang gagal karena kurang telaten,” ulas suami Sri Wijayanti ini.

Ke depan, ia berobsesi untuk terus mengenalkan lukisan limbah kopi tersebut ke pasar dalam negeri maupun internasional. “Media lukis akan terus saya kembangkan, karena prinsipnya cethe kopi bisa dituangkan ke media apa saja, dan cukup unik,” imbuh Sasang.

Mesti Sering Dibersihkan

Senin, 18 Oktober 2010 | 11:55 WIB

Kopi merupakan salah satu minuman yang digemari sebagian besar masyarakat. Tak salah berbagai perusahaan besar maupun kecil ramai-ramai memproduksi biji harum tersebut. Minuman yang dibuat dengan terlebih dulu disangrai itu memang diyakini mampu menjadi media sosialisasi masyarakat, baik pada acara formal maupun nonformal.

Kreasi lukisan dari bahan yang diambil dari limbah minuman itu menjadi bukti bahwa kreativitas seseorang kadang muncul secara tiba-tiba, termasuk saat ‘ngopi’. Karena berbahan limbah alami dan bukan kimia, produk lukisan cethe perlu penanganan khusus. Ini agar lukisan lebih awet dan tak cepat pudar.

Caranya, dengan rutin membersihkan barang seperti, lukisan di kertas atau lukisan di meja, dengan menggunakan kertas tisu dan diusapkan secara perlahan. Khusus untuk lukisan, karena sebagian besar medianya hanya sebuah art paper atau kertas limbah, bisa juga membingkainya dengan kaca. Ketika gelas atau cangkir dicuci dengan sabun pun, sebenarnya lukisan cethe yang ada tak mudah hilang. Hanya saja, ketika mencuci dengan busa dan sabun, sebaiknya jangan terlalu keras. dio Ternyata, asyik juga mengangkat kebudayaan asli Indonesia ini😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: